"Seseorang Akan Bersama Orang Yang Ia Cintai"


Janji RasuluLlah ShalALLAHu`alaihiwasalam bahwa semua akan bersama orang yang ia cintai dihari kiamat. Semoga kita hidup dan wafat dalam cinta kepada RasuluLlah ShalALLAHu`alaihiwasalam dan para Ulama` Shalihin. Amiin ALLAHumma amiin. Al-Fatihah.

Koleksi Selawat Dalam Blog Ini


Terjemahan serta syarahan oleh asy-Syeikh Yusuf ibn Ismail an-Nabhani RahimahuLlah.

Tuesday, November 20, 2007

... لبيك اللهم لبيك لبيك لا شريك لك لبيك



لبيك اللهم لبيك لبيك لا شريك لك لبيك
إن الحمد والنعمة لك والملك لا شريك لك



It`s that time of the year, Muslims all over the world are getting restless. Their Home in the heart of the planet beckons them. It`s time to pay homage to the Beloved GOD in the House. It`s time to come Home. It`s time to come Home to the Holy Sanctuary of Ka`bah. It`s time to leave all and follow HIM. It`s time to abandon this illusory world and come to the House of GOD. It`s time for Hajj - the Pilgrimage.




Click Here For Guide Books And Publications On Hajj
____________________
_____________


O ALLAH,
accept the Hajj of all our lucky Muslim brothers and sisters
who are given the Grace of YOUR Presence in YOUR Exalted House.
Give us the Grace to one day be able to come visit YOU.
O ALLAH,
there is no one worthy of Love, Worship and Surrender but YOU.
Allow us to love YOU, worship YOU and submit to YOUR Presence
and to YOUR Wish and Will.



... اللهم آمين

Wednesday, November 7, 2007

Haul al-Imam AbduLlah al-Haddad


BismiLlah wal HamduliLlah wa as-Syukru liLlah
wa Sholatu wa Salamu `ala RasuliLlah
wa `ala Alihi wa Shohbihi waman waalah.


Amma ba`d, Muslimin Muslimat RahimakumuLlah,
As-Salamu`alaikum
wa RahmatuLlahi wa Barakatuh...





* klik pada gambar untuk lihat lebih jelas *


Insya`ALLAH, majlis-majlis Haul al-Imam Qutub al-Irshad al-Habib AbduLlah bin Alawi bin Muhammad al-Haddad akan di adakan pada 16hb hingga 18hb November 2007 di sekitar ibukota seperti jadual di atas. Semoga yang hadir akan sama-sama mendapat manfaat dan balasan yang sebaiknya dari ALLAH Subhana wa Ta`ala.


Majlis-majlis ini diadakan sempena mengenang peninggalan seorang Mujaddid Islam abad kedua belas Hijrah yang bernama al-Habib AbduLlah bin Alawi bi Muhammad al-Haddad atau nama ringkasnya Imam al-Haddad.


Beliau terkenal sebagai seseorang yang mengandungi `ilmu yang luas lagi bermanfaat. Bukan sahaja untuk insan yang hidup pada zaman beliau, bahkan kepada sesiapa sahaja tanpa batasan zaman atau umur. Kehilangan daya penglihatannya dari umur empat tahun telah digantikan ALLAH Subhana wa Ta`ala dengan kebolehannya yang luar biasa menyerap `ilmu dan menyebarluaskannya.

_________________________________

Ringkisan Riwayat Hidup Beliau : DiSini

Ratib al-Haddad : DiSini

Wiridul Latif : DiSini

Lelaman Hawi al-Khairaat : DiSini
_________________________________

Harap dapat dipanjangkan fiLlah...
JazakumuLlahu khairan kathira.


Fi amanALLAH wALLAHu a`lam bisawab.

Sunday, September 2, 2007

Wasiat - Menghadapi Bulan Ramadhan


BismiLlah wal HamduliLlah wa as-Syukru liLlah
yang telah mengekalkan kita dalam nikmat Iman dan Islam.


Ikhwan wa akhawatu RahimahkumuLlah, insya`ALLAH tidak lama lagi, kita akan berada di dalam bulan yang penuh barakah, rahmat, pengampunan, kebahagiaan dan ganjaran dari ALLAH `Azzawajalla, bulan yang senantiasa dinanti-nantikan oleh ummat Nabi Muhammad ibn AbduLlah ShalALLAHu`alaihiwasalam iaitu bulan Ramadhan.


Insya`ALLAH, disini, ingin sekali ana mengambil kesempatan untuk berkongsi sama wasiat-wasiat yang merupakan penyampaian dari Al-`Allamah Al-Habib Umar Bin Hafiz dalam ceramah beliau dalam menghadapi bulan Ramadhan. Diulaskan disini, insya`ALLAH, sebahagian wasiat-wasiat beliau, bahawa seyogyanya ada 3 hal yang harus kita laksanakan di awal bulan Ramadhan ini, yaitu:


1. Gembira dan senang dengan datangnya bulan Ramadhan, sebagaimana firman ALLAH Subhana wa Ta`ala :

"Katakanlah (wahai Muhammad ShalALLAHu`alaihiwasalam) dengan datangnya Anugerah ALLAH dan Rahmat-NYA, Maka dengan itu hendaknya mereka bergembira."
(Yunus ayat 58)


Dan juga Sabda RasuluLlah ShalALLAHu`alaihiwasalam :

"Barangsiapa yang berpuasa ramadhan dengan menjaganya dengan segenap kemampuannya, maka diampunilah seluruh dosanya yang telah lalu."
(Hadiths riwayat Bukhari dan Muslim)


Dan diriwayatkan oleh Salman RadiALLAHu`anhu, bahwa RasuluLlah ShalALLAHu`alaihiwasalam menyampaikan ceramahnya pada kami di hari terakhir bulan Sya`ban :

"Wahai para manusia sekalian, telah menyelimuti kalian bulan Agung yang penuh keberkahan, bulan yang padanya suatu malam yang lebih mulia dari 1000 bulan, ALLAH menjadikan puasa di bulan ini merupakan hal yang fardhu (wajib), dan menjadikan Qiyam (tarawih) merupakan hal yang sunnah, barangsiapa yang beribadah dengan satu macam kebaikan maka sama saja pahalanya dengan menjalankan ibadah yang fardhu, barangsiapa yang beribadah dengan hal yang fardhu maka seakan ia telah mengerjakan 70X hal fardhu tersebut, inilah (Ramadhan)merupakan bulan kesabaran, dan balasan atas kesabaran adalah Syurga, inilah bulan kita saling membantu satu sama lain, inilah bulan dimana ALLAH menumpahkan rezeki NYA bagi orang mukmin."
(Hadiths riwayat Imam Ibn Khuzaimah dalam shahihnya)


2. Menjaga diri dan berhati-hati dari hal-hal yang membuat kita terhalangi dan terusir dari kemuliaan Ramadhan, diantaranya adalah :


  • menjaga lidah kita dari berdusta dan menjaga pula perbuatan kita dalam kedustaan dan penipuan,
  • juga ucapan-ucapan buruk dan perbuatan buruk
  • dari berbuka puasa dengan makanan haram dan syubhat,
  • dari perbuatan yang menjatuhkan pahala puasa seperti memandang aurat yang bukan muhrimnya,
  • dari berdusta dan membicarakan aib orang lain,
  • dari memutuskan hubungan silaturahmi,
  • dari minum arak, ganja dan narkotika,
  • dari dengki dan kebencian terhadap sesama muslimin,
    dan dari berbuat durhaka pada kedua orang tua.


Dan berhati-hatilah wahai mukimin dari berbuka puasa tanpa sebab yang jelas, Sabda RasuluLlah ShalALLAHu`alaihiwasalam :

"Barangsiapa yang berbuka di hari Ramadhan tanpa sebab sakit, atau safar, atau udzur syar`I lainnya, maka tiadalah ia akan bisa membayarnya walaupun ia berpuasa sepanjang masa."
(Hadiths riwayat Tirmidzi, Nasa`i, Abu Daud, Ibn Maajah, Ibn Khuzaimah dan Imam Baihaqi)


Maka berhati-hatilah wahai mukmin dalam menjaga keadaan puasamu, dan jangan pula kau berbuka puasa sebelum yakin telah tiba waktunya, karena sunnah untuk bersegera dalam buka puasa adalah setelah yakin sepenuhnya telah masuk waktu berbuka puasa.




3. Yang terakhir adalah bersungguh-sungguh dalam menghadapi hujan anugerah di bulan mulia ini, dan bersungguh-sungguh mendapatkan anugerah berlipat gandanya berbagai pahala dan di bentangkannya kesempatan untuk meraih derajat yang agung. Telah bersabda RasuluLlah ShalALLAHu`alaihiwasalam :

"Sesungguhnya ALLAH telah mewajibkan bagi kalian berpuasa di siang harinya dan telah pulah mensunnahkan bagi kalian mendirikan shalat sunnah di malam harinya (tarawih), barangsiapa yang melakukan keduanya dengan keimanan dan kesungguhan, maka ia akan lepas dari seluruh dosanya sebagaimana saat ia baru dilahirkan oleh ibunya."
(Hadiths riwayat Imam Nasa`i)


Maka seyogyanya kita memperbanyak berbagai amal ibadah di bulan mulia ini, terutama menjaga shalat lima waktu dengan berjamaah, dan ketahuilah bahwa menjamu orang lain berbuka puasa merupakan hal yang agung pahalanya, sabda RasuluLlah ShalALLAHu`alaihiwasalam :

"Barangsiapa yang menyediakan buka puasa bagi yang berpuasa dibulan Ramadhan, maka diampuni seluruh dosanya, dan kebebasan baginya dari api neraka, dan ia mendapatkan pahala puasa tersebut."
(Hadiths riwayat Ibn Khuzaimah dalam shahihnya)


Sabda RasuluLlah ShalALLAHu`alaihiwasalam :

"Barangsiapa yang menyediakan buka puasa bagi orang yang berpuasa Ramadhan dengan makanan dan minuman yang halal, maka akan bershalawatlah para Malaikat baginya sepanjang waktu Ramadhan, dan akan bershalawatlah padanya Malaikat Jibril dimalam Lailatulqadr."
(Hadiths riwayat Imam Thabrani)


Sabda RasuluLlah ShalALLAHu`alaihiwasalam :

"Diberikan untuk ummatku dibulan Ramadhan lima hal yang tidak diberikan pada para Nabi sebelumku, yaitu saat malam pertama bulan Ramadhan, ALLAH memandangi mereka dengan iba dan kasih sayang NYA, dan barangsiapa yang dipandangi ALLAH dengan iba dan kasih sayang NYA maka tak akan pernah diseksa selama-selamanya, yang kedua adalah aroma tak sedap dari mulut mereka di sore harinya lebih indah dihadapan ALLAH daripada wanginya Misk (bau tak sedap orang yang berpuasa akan menyusahkan mereka dan akan membuat mereka merasa terhina, namun balasan untuk keredhaan mereka karena hal yang tak mereka sukai dan perasaan terhina itu adalah justeru di sisi ALLAH hal itu sangatlah mulia), yang ketiga adalah sungguh para malaikat memohonkan pengampunan dosa bagi mereka sepanjang siang dan malam, yang keempat adalah ALLAH memerintah kepada Syurga seraya berfirman : “Bersiaplah engkau (wahai Syurga), dan bersoleklah untuk menyambut hamba-hamba KU, AKU iba melihat mereka, barangkali mereka mesti beristirehat karena kepayahan menghadapi kehidupan mereka didunia untuk menuju Istana - Istana KU dan Megahnya Kedermawanan KU”, yang kelima adalah ketika malam terakhir dibulan Ramadhan maka diampunilah bagi mereka seluruhnya, maka bertanyalah seorang sahabat : “apakah itu hadiah orang yang mendapatkan Lailatulqadr Wahai Rasulullah?”, maka Rasulullah ShalALLAHu`alaihiwasalam bersabda : "Tidak, bukankah bila kau melihat para buruh bila selesai dari pekerjaannya harus segera dilunasi upahnya?"
(Hadiths riwayat Imam Baihaqi)


Maka ketahuilah bahwa RasuluLlah ShalALLAHu`alaihiwasalam bersungguh-sungguh dalam beribadah pada bulan Ramadhan, lebih dari kesungguhannya di bulan lain, dan RasuluLlah ShalALLAHu`alaihiwasalam sangat teramat bersungguh- ungguh dalam beribadah di 10 malam terakhir bulan Ramadhan lebih dari kesungguhannya di hari-hari Ramadhan lainnya.


Maka berpanutlah pada Imam mu Nabi Muhammad ShalALLAHu`alaihiwasalam, janganlah tertipu dengan mengikuti kebiasaan sebagian orang yang bersungguh-sungguh di awalnya dan bermalas-malasan di akhirnya, karena kemuliaan justeru berpuncak pada akhirnya.


Wahai ALLAH perkenankan kami melewati kemuliaan Ramadhan, berpuasa dan menegakkan bermacam-macam amal mulia padanya, dari pembacaan Al Qur`an dan bertafakkur atas maknanya, serta menyambung silaturahmi serta berbuat baik dengan tetangga, dan selamat dari segala hal yang menghalangi kami dari kemuliaannya, dan shalawat serta salam atas Nabi Muhammad dan keluarga serta sahabatnya wal Hamdulillahi RABBil `alamiin... amiin.


Sumber asal : alhabibomar.com
Terjemahan oleh : Majelis RasuluLlah (ShalALLAHu`alaihiwasalam)


fi amanALLAH wALLAHu a`lam bisawab.

Wednesday, August 1, 2007

ya RABBi ya `Alimal Hal


Wahai ALLAH yang mengetahui hal hamba
Kepada-MU aku hadapkan segala cita-cita
Kurniakanlah kami nikmat perkenan dari-MU
Serta belas kasihan dan tenteramkan hati kami



Wahai ALLAH yang Maha Mencukupi
Berilah kami sihat afiat
Kerana tiada yang sulit atas-MU
Segala sesuatu dalam pengetahuan-MU


Ia telah datang pada-MU dengan dosa
Dan kesedihan dan kefakirannya
Angkatlah dengan kemudahan-MU segala kesusahannya
Dengan Berkat kemurahan dan kurnia-MU


Kurniakanlah
padanya taubat
Yang dapat menghapus segala dosa
Jagalah ia dari segala bahaya
Dari segala yang akan menimpa padanya


Engkau adalah Tuhan seluruh hamba
Yang Esa dalam kesempurnaan-MU
Dalam ketinggian
dan keagungan-MU
Maha suci ALLAH
dari semua keserupaan


Kemurahan, kurnia, dan kebaikan-MU
Sungguh sangat di harapkan
Murka dan marah-MU
Sungguh sangat di takutkan


Berdzikr dan bersyukur pada-MU adalah lazim,
Demikian pula memuji dan mengagungkan-MU


Selawat pada setiap masa
Di atas Nabi penghapus kesesatan
Kepadanya rusa bercakap
Iaitu Muhammad (ShalALLAHu`alaihiwasalam)
Penunjuk jalan


Segala puji bagi ALLAH sebagai tanda syukur
Atas nikmat-NYA yang tidak putus
Kami memuji pada-NYA dengan rahsia dan terang
Siang malam setiap waktu...


Nukilan Indah :
al-Imam AbduLlah bin Alawi al-Haddad RahimahuLlah.

ALLAHu a`lam bisawab.

Saturday, July 28, 2007

Siri Syarahan oleh Habib Salim as-Shatiri.


bismiLlah wal HamduliLlah wa as-Syukru liLlah,
as-Salamu`alaikum wa RahmatuLlahiwa Barakatuh...



insya`ALLAH,
Habib Salim as-Shatiri akan hadir ke Singapura,
pada bulan Ogos ini. harap dapat dipanjangkan.



* klik pada gambar untuk lihat lebih jelas *

** klik disini untuk biografi Habib Salim as-Shatiri **


jazakumuLlahu khairan kathira...
fi amanALLAH wALLAHu a`lam bisawab.

Friday, April 6, 2007

Jihad


بسم الله الرحمن الرحيم
اللهم صلي وسلم على سيدنا محمد
وعلى آله وصحبه اجمعين






Alhamdulillah dan kali ini,
sedikit nukilan ana ambil
dari
ceramah Habibana `Ali Al-Jifri.
InsyaALLAH, kita ambil pelajaran darinya
untuk kebaikan kita bersama fiddunya walAkhirah...


Apa yang terjadi walaupun dinamakan adil, belum bisa dinamakan JIHAD dalam agama kami. Kerna bisa jadi saya melakukan tindakan pembelaan terhadap kebenaran padahal disebalik kesemuanya itu saya menyimpan kepentingan atau tujuan untuk daerah saya. Kerna bisa jadi saya melakukan tindakan yang kita sepakati bahawa itu adalah tindakan keadilan, kerna bisa jadi saya melakukan hal tersebut, padahal ada kepentingan lain selain membela kebenaran.


Saya ingin mempertegaskan satu kaedah, jika antara saya dan anda ada masalah, kemudian saya lihat anda memukul seorang wanita yang tidak bersalah, lalu saya datang, memukulmu agar menyingkirkanmu darinya walaupun tindakan ini dinamakan kepahlawanan namun dalam agama kami tidak dianggap JIHAD melainkan jika tujuanku melakukan tindakan tersebut adalah membela kebenaran yang telah anda berlaku zalim.


Dalam Islam, jika saya datang dan memukulmu hanya kerna membalaskan dendam yang disebabkan oleh masalah diantara kita, maka dalam hal ini saya tidak dianggap Mujahid dalam Islam. Kerna JIHAD dalam agama kami tidak semata hanya keadilan lahiriyah dan menegakkan aturan, namun JIHAD sejati dalam pandangan Islam adalah menegakkan keadilan nurani saat berinteraksi dengan ALLAH.




Imam Ali KaramALLAHuwajha, sepupu Nabi ShalALLAHualaihiwasalam, saat berhadapan dengan seseorang dalam peperangan. Saat beliau unggul dan musuhnya terjatuh, segera beliau hunuskan pedang untuk membunuhnya, tiba-tiba si musuh itu meludahi ke wajah beliau.


Musuh tersebut merasa putus asa, lalu ia berludahi wajah Imam Ali KaramALLAHuwajha mengespresikan kemarahannya; ia merasa putus asa, bercampur marah merasa dirinya pasti akan dibunuhi.


Musuh ini memang seorang yang jahat dan salah. Memenuhi syarat dan pantas; -ditinjau dari sisi kemanusian, keadilan dan konsep JIHAD- untuk dibunuh! Saat ia meludahi wajah Imam Ali KaramALLAHuwajha, segera beliau (Imam Ali KaramALLAHuwajha) berdiri meninggalkannya tanpa membunuhnya seraya berkata:

"Ayuh berdiri! Hadapi aku sekali lagi!"


"Kenapa engkau biarkan dia wahai Imam? Padahal ALLAH telah menguasakannya pada mu"
tanya para prajurit kepada beliau setelah kejadian tersebut.


"Ya, tetapi aku memeranginya hanya kerna ALLAH. Tatkala ia meludahiku, aku khuatir jika aku membunuhnya kerna melampiaskan kemarahanku"
jawab Imam Ali KaramALLAHuwajha.


Inilah JIHAD sesungguhnya dalam Islam, ditinjau dari makna pokok dan cabangnya.
Tema JIHAD ini secara perinci akan panjang lebar jika dibahas sekarang mungkin perlu dibahas lagi dalam pertemuan yang lain. Namun saya akan mengajukan pertanyaan di akhir pertemuan ini dengan satu pertanyaan. Adakah ada diantar kalian yang berpendapat bahawa JIHAD dalam perspektif ini merupakan tindakan kriminal?


Agamaku mengajarkanku untuk mencari kebenaran dari mana sahja walaupun dari non-Muslim. Jika ada yang bisa memuaskanku, bahawa ada agama selain Islam yang benar, maka saya bersamanya. Saya berharap adanya kesedaran dan objektif bahawa apa yang kalian dengarkan sekarang menuntut kalian agar mempelajari Islam dari sumber-sumber yang benar, bukan dari sumber musuh-musuh Islam dan media yang tidak bisa dipercayai...


ALLAHu a`lam bisawab.

Friday, March 30, 2007

Rabi`ul Awwal





Sejahteralah
jasad Baginda
setelah melalui hari-harinya
yang memenatkan serta meletihkan
disebabkan kita...


Sejahteralah
jasad Baginda
dapat berehat setelah perutnya
yang diikat dengan batu kerana kelaparan
disebabkan kita...


Sejahteralah
jasad
yang pernah dilemparkan dengan batu
sehingga melukakannya
disebabkan kita...


Sejahteralah
jasad
yang pernah dipatahkan gerahamnya
disebabkan kita...


Sejahteralah
jasad
yang pernah dilukakan dahinya
dan mengalirlah darahnya lalu Baginda menahannya
dengan tangannya untuk menjaga darah
yang bersih itu dari terjatuh ke tanah
sebagai rahmat bagi mereka
dan kita dari kemurkaan ALLAH
...


Sejahteralah
jasad
yang pernah dimasuki sesuatu ke dalam daging pipinya
disebabkan kita....


Sejahteralah
jasad
yang mana kakinya bengkak
disebabkan pengabdiannya pada ALLAH serta da`wah
untuk kita...



Sejahteralah
jasad
yang memikul kesukaran,
keletihan, kesakitan dan kelaparan
disebabkan kita....

ya RABB......

Friday, March 23, 2007

something to ponder






masya`ALLAH...
Tabaraka wa Ta`ala...



akhawat ikhwah fiLlah, heed this sage advice; quote taken from QNews May 1427H by Habibana `Ali Al Jifri, hafizahuLlah.


“The Prophet ShalALLAHu`alaihiwasalam is not alive in people’s hearts, he’s not alive in their spiritual wayfaring or in the way they do things an even in the way they list their priorities, and how they deal with others around them. This is what we’re missing, this is the real problem.”


“We are angry about the cartoons, we showed the world that. We showed them our anger but we didn’t show them the love for the Prophet Muhammad ShalALLAHu`alaihiwasalam. So through this year’s mawlid celebrations, it’s important that people find out why we love him, and through the remembrance of his noble characteristics they will know the reason for our love.”


“How do you explain to someone... why we love the Prophet ShalALLAHu`alaihiwasalam? People love in general for three reasons 'jamal', 'kamal' and 'ihsan'. 'Jamal' is beauty, 'kamal' is completeness or perfection and 'ihsan' is excellence. We have to get out the message that we see all these three aspects in the Prophet ShalALLAHu`alaihiwasalam and it’s these attributes that people actually need in their lives today.”


*Habib Ali Al Jifri has adopted the Arabic slogan Hayyun fi Qulubina
(Alive in Our Hearts) as rallying cry for this call to adopt the Prophetic values.*



ALLAHu a`lam bisawab.

Sunday, March 18, 2007

keLebihan berSyukur




Bersyukur ialah : pengi’tirafan atau penerimaan suatu ihsan atau kebaikan. Seperti kita berkata : “Aku bersyukur kepada ALLAH” atau “Aku bersyukur atas segala nikmat dan kurnia ALLAH.” Bersyukur seumpama memuji, namun memuji itu lebih umum sifatnya dari bersyukur, kerana kita biasanya memuji seseorang itu atas sifat-sifatnya yang baik lagi mulia, tetapi kita tidak bersyukur kecuali atas perbuatan seseorang.


Dari segi bahasa, asal penggunaan perkataan ‘syukur’ ialah : Wujudnya kesan pemakanan dalam tubuh haiwan, maka ‘syakur’ pada haiwan ialah : Bahan makanan sedikit yang mencukupinya, atau bahan makanan sedikit yang menggemukkannya. Dari pengertian ini, jelaslah bahawa syukur itu ialah : Wujudnya kesan nikmat ilahiyat atas diri seorang hamba yang beriman; tercetus dari lidahnya pujian dan sanjungan dan pada dirinya peribadatan dan ketaatan. Sedikit nikmat yang diterimanya mencetuskan kesyukuran yang melimpah. Apatah lagi jika dianugerahkan nikmat yang ruah.


Syukur adalah suatu syu’bah dari syu’bah-syu’bah iman. Sifat-sifat yang tercetus dari syu’bah ini ialah seperti : sabar, redha, taubah, berserah, berharap, taqwa, khusyu’, ihsan, ibadah dan yang seumpamanya.


Syu’bah-syu’bah ini, sekalipun kesemuanya adalah dari cabang-cabang iman dan ia adalah kesan zahir dan batin dalam diri seseorang insan yang beriman, namun ia berbeza antara satu dengan yang lain. Sebahagian dari syu’bah-syu’bah ini berfungsi sebagai unsur amali bagi ‘syukur’, sementara sebahagian yang lain bertindak sebagai unsur amali bagi ‘sabar’.


Dalam hal ini, kitab suci Al-Quran telah membuat perbandingan antara ‘syukur’ dan ‘sabar’ ini di beberapa tempat. Antaranya firman ALLAH ‘Azzawajalla dalam surah Ibrahim ayat 5 :

”Sesungguhnya yang demikian itu, mengandungi tanda-tanda yang menunjukkan kekuasaan ALLAH bagi tiap-tiap seorang yang kuat bersabar, lagi kuat bersyukur.”


Maka bersyukur atas nikmat, digambarkan dengan sabar atas kesusahan.


Dalam sebuah hadiths yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim radiALLAHuanhu, Rasulullah SallALLAHualaihiwasalam telah bersabda:

”Amat menghairankan sekali keadaan orang mukmin itu, sesungguhnya semua keadaannya itu adalah merupakan kebaikan baginya dan kebaikan yang sedemikian itu tidak akan ada lagi seseorangpun melainkan hanya untuk orang mukmin itu belaka, iaitu apabila ia mendapatkan kelapangan hidup, iapun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan baginya, sedang apabila ia ditimpa oleh kesukaran- yakni yang merupakan bencana- iapun bersabar dan hal inipun adalah merupakan kebaikan baginya.”


Dalam beberapa syu’bah, syukur dan sabar ini saling bertimbal. Ada kalanya syukur itu lebih umum sifatnya dari sabar, begitu pula sebaliknya dalam syu’bah yang lain. Contoh yang menunjukkan bahawa syukur itu lebih umum sifatnya ialah atas perkara-perkara yang telah ditetapkan oleh ALLAH ‘Azzawajalla yang memerlukan kesabaran, maka seorang mukmin mensyukuri Tuhannya atas apa yang diturunkanNYA dalam bentuk kesusahan lantas ia bersabar. Kesyukurannya itu berdasarkan keimanannya yang padu bahawa ALLAH ‘Azzawajalla amat Bijaksana dan amat Penyayang.


Jelasnya ialah setiap sesuatu yang memerlukan kesabaran seorang mukmin, maka kesyukuran ada bersamanya. Di sini menunjukkan, kesyukuran lebih umum sifatnya dari kesabaran.


Dan syukur itu salah satu dari sifat-sifat ALLAH ‘Azzawajalla. Sebelum para hambaNYA diarahkan bersifat dengan sifat tersebut, IA telah mengkhabarkan kepada mereka bahawa syukur itu salah satu dari sifat kesempurnaanNYA. Salah satu dari namaNYA dalam “Al-Asmaul Husna” ialah “Asysyakuur”, tidak pernah mengabaikan amalan seorang hamba dan tidak pernah menganiayai dan menzalimi hamba, bahkan mengganjarinya dengan ganjaran yang berlipat ganda atas setiap amalan yang baik tetapi atas tiap amalan yang buruk, seorang hamba itu tidak pernah dibalas melainkan berdasarkan amalan buruk yang dilakukannya, bahkan jika hamba yang bersalah itu bertaubat, maka ALLAH ‘Azzawajalla adalah amat Pengampun dan amat Penerima taubat.


Firman ALLAH ‘Azzawajalla :

“Apa gunanya ALLAH menyiksa kamu sekiranya kamu bersyukur (akan nikmatNYA) serta kamu beriman (kepadaNYA)? Dan (ingatlah) ALLAH sentiasa membalas dengan sebaik-baiknya (akan orang-orang yang bersyukur kepadaNYA), lagi Maha Mengetahui (akan hal keadaan mereka).”
Surah An-Nisa’ ayat 147


Dan firmanNYA lagi :

”Kalau kamu memberi pinjaman kepada ALLAH, sebagai pinjaman yang baik (ikhlas), nescaya ALLAH akan melipatgandakan balasanNYA kepada kamu serta mengampunkan dosa-dosa kamu, dan ALLAH sangat-sangat memberi penghargaan dan balasan kepada golongan yang berbuat baik, lagi Maha Penyabar (untuk memberi peluang kepada golongan yang bersalah supaya bertaubat).”
Surah At-Taghaabun ayat 17


Dan bersyukur ini juga adalah dari akhlak pada Nabi. Merekalah yang pertama mengambil dan melaksanakan sifat ilahiyat ini, sebagaimana firman ALLAH ‘Azzawajalla tentang Nabi Nuh Alaihisalam :

”Sesungguhnya ia (Nuh) adalah seorang hamba yang banyak bersyukur.”
Surah Al-Israa’ ayat 3


Begitu juga firmanNYA tentang Nabi Ibrahim Alaihisalam :

”Sesungguhnya Nabi Ibrahim adalah merupakan ‘satu umat’ (walaupun ia seorang diri), ia taat sepenuhnya kepada ALLAH, lagi berdiri teguh diatas dasar tauhid, dan ia tidak pernah menjadi dari orang-orang yang musyrik.”
Surah An-Nahl ayat 120


Juga firmanNYA tentang Nabi Sulaiman Alaihisalam :

”Setelah Nabi Sulaiman melihat singgahsana itu terletak disisinya, berkatalah ia : “Ini adalah dari limpah kurnia Tuhanku, untuk mengujiku adakah aku bersyukur atau aku tidak mengenang nikmat pemberianNYA.”
Surah An-Naml 40


Dan Nabi Muhammad SallALLAHualaihiwasalam adalah yang paling banyak bersyukur. Baginda telah melaksanakan kewajipan ini dengan sebaik-baiknya, bertepatan dengan firman ALLAH ‘Azzawajalla :

”(Janganlah menyembah yang lain dari ALLAH) bahkan (apabila beribadat) maka hendaklah engkau menyembah ALLAH semata-mata, dan hendaklah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur.”
Surah Az-Zumar ayat 66


Al-Iman Bukhari dan Al-Iman Muslim telah meriwayatkan dari Sayyidatina ‘Aisyah radiALLAHuanha bermaksud :

”Dari ‘Aisyah radiALLAHuanha bahawasanya Rasulullah SallALLAHualaihiwasalam berdiri untuk beribadat dari sebahagian waktu malam sehingga pecah-pecahlah kedua tapak kakinya. Saya (‘Aisyah) lalu berkata kepadanya : “Mengapa Tuan berbuat demikian ya Rasulullah, sedangkan ALLAH telah mengampunkan segala dosa-dosa Tuan yang telah lalu dan yang kemudian?” Rasulullah bersabda : “Adakah aku tidak senang untuk menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?


Inilah Nabi yang tidak ada sesiapapun mendahului ilmunya di kalangan manusia tentang pengertian nikmat dan mensyukurinya dengan hati, lidah dan anggota.


Dan syukur juga adalah dari akhlak orang-orang mukmin. Ini kerana iman telah mendidik mereka bahawa diri mereka dan semua yang mereka miliki adalah kepunyaan ALLAH. Semua nikmat yang mereka rasai adalah semata-mata anugerah ALLAH ‘Azzawajalla, jadi bagaimana mereka tidak akan bersyukur? Dan mereka juga telah dididik bahawa apabila mereka mensyukuri ALLAH sebenarnya adalah untuk diri mereka sendiri, kerana kebaikannya akan kembali kepada mereka; sementara ALLAH adalah Maha Kaya dari semua yang mereka lakukan.


Firman ALLAH ‘Azzawajalla :

”Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari benda-benda yang baik (yang halal) yang telah KAMI berikan kepada kamu, dan bersyukurlah kepada ALLAH, jika betul kamu hanya beribadat kepadaNYA.”
Surah Al-Baqarah ayat 172


Dan firmanNYA lagi :

”Dan sesungguhnya KAMI telah memberi kepada Luqman hikmat kebijaksanaan, (serta KAMI perintahkan kepadanya) : “Bersyukurlah kepada ALLAH (akan segala nikmatNYA kepadamu).” Dan sesiapa yang bersyukur maka faedahnya itu hanyalah terpulang kepada dirinya sendiri, dan sesiapa yang tidak bersyukur (maka tidaklah menjadi hal kepada ALLAH), kerana sesungguhnya ALLAH Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”
Surah Luqman ayat 12


Walaupun syukur itu adalah budaya para Nabi dan orang-orang mukmin, tetapi di kalangan kebanyakkan manusia rasa syukur atas segala nikmat dan pemberian yang telah ALLAH berikan kepada mereka amat sedikit. Ini telah dijelaskan oleh ALLAH ‘Azzawajalla disalah satu firmanNYA :

”Dan sesungguhnya KAMI telah menetapkan kamu (dan memberi kuasa) di bumi, dan kami jadikan untuk kamu padanya (berbagai jalan) penghidupan (supaya kamu bersyukur tetapi) amatlah sedikit kamu bersyukur.”
Surah Al-A’raf ayat 10


Dan firmanNYA lagi :

”Dan DIAlah juga yang mengadakan bagi kamu pendengaran dan penglihatan serta hati (untuk kamu bersyukur, tetapi) amatlah sedikit kamu bersyukur.”
Surah Al-Mu’minun ayat 78


Dan firmanNYA lagi :

“Dan sememangnya sedikit sekali di antara hamba-hambaKU yang bersyukur.”
Surah Saba’ ayat 13


Andaikata seluruh manusia punya rasa kesyukuran atas segala nikmat yang ALLAH beri, nescaya manusia zaman inilah seharusnya yang paling banyak bersyukur, berbanding dengan manusia yang hidup terdahulu dari mereka.


Kalau kita hendak bandingkan kemudahan, kesenangan, kemajuan ilmu yang cukup pesat dari pelbagai bidang yang dikecapi oleh manusia zaman ini, mereka adalah cukup beruntung jika dibandingkan dengan zaman datuk nenek dan manusia yang terdahulu daripada mereka.


Dan sesungguhnya kedudukan generasi hari ini amat berat di hadapan ALLAH ‘Azzawajalla jika tidak rasa syukur terhadap Tuhan yang telah menganugerahkan ke atas mereka semua nikmat ini, ataupun jika rasa syukur mereka tidak setimpal dengan nikmat yang mereka kecapi. Amat tepatlah firman ALLAH ‘Azzawajalla :

”Sesungguhnya ALLAH sentiasa melimpah-limpah kurniaNYA kepada manusia (seluruhnya), tetapi kebanyakkan manusia tidak bersyukur.”
Surah Al-Baqarah ayat 243


Maka mensyukuri nikmat bererti mengingatinya dan menyebarkannya. Sementara mengkufurinya bererti menidakkannya dan menyembunyikannya.


ALLAH ‘Azzawajalla berfirman :

”Dan (sebenarnya) sesiapa yang bersyukur maka faedah syukurnya itu hanyalah terpulang kepada dirinya sendiri, dan sesiapa yang tidak bersyukur (maka tidaklah menjadi hal kepada ALLAH), kerana sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Pemurah.”
Surah An-Naml ayat 40


Dan firmanNYA lagi :

”Kalaulah kamu kufur ingkar (tidak bersyukur) akan nikmat-nikmatNYA itu, maka ketahuilah bahawa sesungguhnya ALLAH tidak berhajatkan (iman dan kesyukuran) kamu (untuk kesempurnaanNYA); dan IA tidak redha hamba-hambaNYA berkeadaan kufur; dan jika kami bersyukur, IA meredhainya menjadi sifat dan amalan kamu.”
Surah Az-Zumar ayat 7

Sebab-sebab seorang itu mengukufuri nikmat ALLAH itu amat banyak. Antaranya sifat lalai dan leka, atau menganggap bahawa semua nikmat yang diperolehinya itu tiada hubungan langsung dengan ALLAH ‘Azzawajalla. Hal seperti ini pernah digambarkan oleh ALLAH ‘Azzawajalla ketika mengkhabarkan tentang kisah Qarun, sewaktu kaumnya mengingatkannya bahawa apa yang diperolehinya itu adalah dari ALLAH. Lantas hendaklah ia berbuat baik sebagaimana ALLAH telah berlaku baik terhadapnya. Tetapi jawapannya adalah amat menyedihkan; sebagaimana yang difirmankan oleh ALLAH ‘Azzawajalla :

”Qarun menjawab (dengan sombongnya) : “Aku diberikan harta kekayaan ini hanyalah disebabkan pengetahuan dan kepandaian yang ada padaku.”
Surah Al-Qasas ayat 78


Demikianlah, sesungguhnya memahami sesuatu konsep dalam Islam adalah penting; dan memahami kepentingan syukur itu sendiri pastinya menjadikan seorang mukmin itu dapat menjalani kehidupannya di bumi ALLAH ini dengan lebih sempurna.


Firman ALLAH ‘Azzawajalla :

”Dan apa-apa nikmat yang ada pada kamu adalah ia dari ALLAH.”
Surah An-Nahl ayat 53


Nukilan indah oleh :
Ustaz Mokson Bin Mahori,
Mudir Madrasah Al-Junied Al-Islamiah, Singapura.



ALLAHu a'lam bisawab.

Thursday, March 15, 2007

material


بسم الله الرحمن الرحيم
اللهم صلي وسلم على سيدنا محمد
وعلى آله وصحبه اجمعين



Sedikit nukilan
ana ambil dari ceramah
Habib Umar Bin Hafiz.
Insya`ALLAH, kita ambil pelajaran darinya untuk kebaikan kita bersama fiddunya walAkhirah…


Ada di antara mereka itu yang kaya dan fakir miskin. Ada di antara mereka pegawai, jurutera, peniaga, pemerintah dan yang diperintah. Antara mereka siapa yang hidup di negara maju dan ada yang di negara yang miskin.


Jadi, semua sifat-sifat ini tidak dikira padanya. Betapa cepatnya ia berakhir dan dikeluarkan daripadanya ahlinya serta ianya lenyap dari mereka. Semua keadaan-keadaan ini tidak diambil kira yang mana orang-orang yang dimuliakan disisi ALLAH berkongsi perkara ini bersama orang-orang yang celaka pada hari itu (akhirat).


Dengan apakah ianya diambil kira? Dengan apakah ianya terjadi?


Orang mukmin yang berakal semestinya tidak tertipu dengan penipuan dalam perkara yang material ini. Semua perkara yang material ini pada zatnya tidak membawa kemuliaan tidak juga kehinaan. Begitu tidak juga kenikmatan dan tidak juga keseksaan. Tidak juga syurga dan tidak juga neraka. Tetapi, zat dirimu wahai manusia! Begitu juga hatimu! Kecenderunganmu! Niatmu! Kehendakmu dan maksudmu! Serta hubunganmu bersama Tuhanmu Yang Mencipta.


Perkara inilah yang terdapat padanya kebahagiaan ataupun kesengsaraan yang abadi. Dekatnya dengan ALLAH ataupun berjauhan dariNYA. Berada dalam syurga ataupun dalam neraka. Jadi, bahaya yang dahsyat bukan kerana manusia itu memakai pakaian yang mahal ataupun yang murah. Bukan kerana dia hidup kaya-raya ataupun miskin. Bukanlah kerana dia menaiki kereta yang mewah ataupun menunggang motosikal atau basikal yang dikayuh dengan kakinya ataupun dia berjalan kaki di jalanan. Tiada apa-apa bahaya padanya. Tiada apa-apa kekurangan padanya. Terdapat padanya segala daripada yang bertaqarrub atau yang berjauhan (dari ALLAH). Yang disayangi dan yang dibenci di sisi ALLAH. Tiada apa-apa.


Jadi… apakah perkara itu? Perkara itu adalah hatimu! Perkara itu adalah maksudmu! Perkara itu adalah kehendakmu! Perkara itu adalah hubunganmu dengan Tuhanmu dan bagaimanakah kamu ingin bersamaNYA?


Ambil beratlah padaNYA. Berbesar hatilah untukNYA. Berjaga-jaga denganNYA. Hadapkan pandanganmu ke arahNYA. Begitu juga pandangan keluargamu, anak-pinakmu, sahabat handai serta rakan taulanmu. Janganlah jadikan pandangan mereka mengambil kesilapan-kesilapan yang menipu kebanyakan manusia dalam kehidupan ini. Maka mereka tidak berhasil apa-apa selepasnya melainkan kesedihan dan penyesalan dengan sebab terputusnya mereka dari ALLAH disebabkannya. Kita mohon perlindungan dari ALLAH Subhana Tabaraka wa Ta’ala.


Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq radiALLAHuanhu adalah peniaga di Makkah Al-Mukarramah. Dia memiliki sembilan gedung di Makkah yang mana dia berurus-niaga dalamnya. Terdapat banyak usahawan di Makkah dan diluarnya ketika itu. Adakah semua mereka itu adalah usahawan seperti Abu Bakar As-Siddiq?


Sayyidina Zulbijadain radiALLAHuanhu dan Sayyidina Abu Hurairah radiALLAHuanhu adalah dua orang dari fakir miskin di kalangan sahabat. Pada masa mereka terdapat banyak fakir miskin. Adakah semua fakir miskin seperti mereka? Mereka mendapat tempat dan kemuliaan didunia dan akhirat.


Sayyidina Sa’ad Bin Mu’az radiALLAHuanhu adalah seorang pemerintah kaumnya serta ketua untuk masyarakatnya. Dia menerima kepimpinan. Adakah semua pemimpin masyarakat mendapat tempat seperti Sayyidina Sa’ad Bin Mu’az yang mana ‘Arasy ALLAH bergegar ketika dia meninggal dunia? Apakah yang diperolehinya ketika dia menjadi pemerintah bagi masyarakatnya?


Tetapi dia mendapatnya hasil dari kasihnya pada ALLAH dan RasulNYA Nabi Muhammad SallALLAHualaihiwasalam. Dia mendapatnya kerana dia benar-benar bersama ALLAH dan RasulNYA yang mana dia berkata di hari Perang Badar:

“Ambillah wahai Rasulullah dari hartaku apa yang kamu mahukan dan tinggalkan seperti yang kamu kehendaki. Apa yang kamu ambil dari kami adalah lebih disayangi dari apa yang kamu tinggalkan. Sambungkan pertalian sesiapa yang kamu kehendaki dan putuskan talian sesiapa yang kamu tidak kehendakinya. Perangilah sesiapa yang kamu kehendaki atau berdamai dengan sesiapa yang kamu kehendakinya. Kami berperang terhadap sesiapa yang kamu perangi dan kami berdamai dengan sesiapa yang kamu berdamai dengannya.”


Antara balasannya disisi ALLAH ialah kematiannya ketika umurnya kurang dari 40-an dan ‘Arasy ALLAH bergegaran kerana kematiannya… ‘Arasy ALLAH bergegaran kerana kematiannya radiALLAHuanhu.


Malaikat Jibril alaihisalam keluar berkata kepada Nabiyi Mustafa:

”Siapakah hamba soleh yang mana ‘Arasy ALLAH bergegaran dengan kematiannya? ‘Arasy gembira dengan ketibaan ruh Sa’ad Bin Mu’az seorang sahabat Nabi Muhammad SallALLAHualaihiwasalam.”

Sayyidina Bilal radiALLAHuanhu pula adalah seorang diperintah di Makkah Al-Mukarramah. Beliau adalah seorang hamba yang dimiliki. Adakah semua hamba-sahaya pada zamannya sepertimana Bilal? Mereka mendapat kedudukan seperti Bilal?


Tetapi beliau dengan keimanan dan ketulusannya serta keikhlasannya menjadi seseorang yang mempunyai kedudukan yang hebat. Jadi, bukanlah setiap kedudukan itu berdasarkan keadaan material duniawi semata-mata.


Orang yang tertipu dengan dunia adalah orang yang lemah akalnya, keimanan dan pandangannya punah dalam memerhatikan hakikat setiap perkara dan masa depan yang jauh.


Sesungguhnya, betapa mulianya Bilal ketika diseksa kerana ALLAH.


Dia menyebut:

“Maha Esa. Maha Esa.”

Dikatakan padanya:
“Ingkarlah pada ALLAH.


Dia menyebut:

“Maha Esa. Maha Esa.”

…”Sekutukanlah dengan ALLAH”

Dia menyebut:

“Maha Esa. Maha Esa.”

Dia dipukul sambil melaungkan:

“Maha Esa. Maha Esa.”

Ditarik. Maka dia melagukan:

“Maha Esa. Maha Esa.”

Diletakkan batu diatas belakangnya dan perutnya, dia menyebut:

“Maha Esa. Maha Esa.”

Beliau ditanya selepas itu:
”Kamu terus melaung sedangkan kamu diseksa. Adakah kamu tidak merasa pedih diseksa?”


Beliau menjawab:

”Aku mencampurkannya dengan kemanisan iman, kemanisan iman telah mengalahkan kepahitan seksaan itu.”

Dia melaungkan dengan asyiknya dalam mengingati sifat Yang Tunggal lagi Maha Esa. Dia menyebut:

“Maha Esa. Maha Esa.”

Ini adalah suara yang lantang dan laungan yang berkualiti. Maka dia mengulangi laungan ini. Dia mengulangi laungan dalam keadaan rindu, memerhatikan sifat ALLAH. Memerhatikan keindahan ALLAH dan kebesaran ALLAH. Maka, azab menjadi kecil baginya.












Tidak beberapa lama sehingga pembukaan Makkah, dia naik ke atas Kaabah. Bilal melaungkan:



”ALLAH Maha Besar, ALLAH Maha Besar, Aku bersaksi bahawa tiada Tuhan melainkan ALLAH, Aku bersaksi bahawa Nabi Muhammad adalah utusan ALLAH.”

Di manakah orang yang pernah menyeksanya? Di manakah orang yang pernah menyakitinya? Di manakah orang yang pernah menghalangnya untuk menyebut perkataan ini? Mereka telah memasuki dalam salah satu dari lubang-lubang neraka. Dalam api yang menyala-nyala. Inilah orang mendapat nikmat di dunia, bermegahan lagi dimuliakan. Kemudiannya, ketika kematiannya, tibalah maut lalu isterinya berteriak:
”Betapa pilunya, betapa pilunya.”


Bilal membuka matanya. Lalu berkata Bilal:

”Betapa gembiranya, betapa gembiranya. Esok aku akan temui para sahabat. Nabi Muhammad SallALLAHualaihiwasalam dan kumpulannya.”

ALLAH memberikan untuk hati hambanya untuk mendapatkan kebahagiaanya sebenarnya. Orang-orang yang memandang pada material dunia, ada dikalangan mereka yang kaya dan miskin. Ada di kalangan mereka pemimpin, raja dan yang dimiliki. Tetapi semua yang berbahagia dengan hubungannya dengan Nabi Muhammad SallALLAHualahiwasalam dan Tuhan kepada Sayyidina Muhammad serta kemenangan bagi Sayyidina Muhammad. Sesiapa yang hendak berbahagia pada hari ini, tiadalah pintu kebahagiaan melainkan pintu yang dimasuki oleh Nabi. Moga-moga ALLAH membahagiakan kita dengan ketulusan dan ALLAH menjadikan kita dari sebaik-baik makhluk… amin ya RABB.


ALLAHu a`lam bisawab.